Catatan Akhir Musim Panas 2005 di Indonesia
Maret 16, 2007
Liburan musim panas (summer) tahun pertamaku di Egypt seharusnya aku nikmati. Seperti teman-teman lain yang menghabiskan waktu dengan tour kebeberapa tempat wisata di Mesir, aktif diskusi, organisasi bahkan memperlancar bahasa arab dengan mengikuti kursus di beberapa lembaga pengembangan bahasa. Namu aku tidak begitu, aku menikmati musim panas kali ini di Indonesia, yang mana bagiku sama saja musimnya, sebab di Indonesia tidak mengenal musim panas, yang ada musim kemarau yang tidak begitu panas. Kalau tidak salah ingat, musim kemarau di Indonesia sama halnya dengan bulan April di Mesir, jadi tidak terasa begitu panas.
“Al, gimana liburan musim panasnya? Dah jalan-jalan kemana saja?”. tanyaku pada Alfi teman dekat sekaligus tetanggaku saat kami chatting dengan Yahoo Messenger.
“Wah indah sekali, aku ke Syarm-syekh, ke Sinai, pantai Dhahab dan masih banyak lagi, pokoknya nyesel deh kamu enggak ngikut”. Jawabnya.
“Tapi gimana lagi, ya…. tetep asyik disini lah bisa kumpul keluarga, ke puncak dan lainnya”. Sergahku agar aku tidak ketahuan kalau iri.
Masa laluku bukan kematianku.
Maret 16, 2007
Dalam kehidupan, setiap manusia mempunyai masa lalu. Setelah kejadian inipun masuk dimensi masa lalu. Persoalan yang urgen bagi manusia adalah ketika ia tidak bisa membebaskan dirinya dari sakau masa lalu.
Masa lalu yang sering dijadikan alasan yang ditimbulkan dari pemujaan kebencian di masa lalu.
Keagungan atau keburaman momentum yang diwarisi dari nilai-nilai masa lampau bukanlah pilihan progresif atas penyanjungan atau pembencian masa lalu karena kehidupan ini selalu tidak tegak dan berputar. Ibarat roda yang selalu berputar.
Cukuplah jadi cermin, kaca mata dan pijakan guna menjalani kehidupan yang terus berjalan kedepan. Jangan pernah kau jadikan masa lalu adalah belenggu yang menjadikan dirimu mati rasa, harapan dan pencerahan. Lebih bersikap santai dan biasa saja dalam mengapresiasikan keluhuran, kejayaan dan keagungan atau bahkan kekelaman dan kebencian atas peristiwa yang pernah menimpa kita. Yang terpenting dari masa lalu kita adalah mutiara hikmahnya bukan menjadikan matinya rasa keinginan kita.
keindahan bersamamu di Luxor, Aswan, Abou Simbel.
Maret 16, 2007
Malam itu aku meinggalkan rumah pukul 21.00 malam dan langsung menuju Ramsies Train Station desertai 3 kawanku. Setibanya disana ternyata kami datang paling awal datang, sedang rombongan yang lain belum tampak. Jadwal kereta yang akan kami naiki pukul 23.00, lumayan cukup malam untuk melakukan perjalanan ke Luxor, ya.. apa boleh buat karena kereta ini yang masih tersisisa tempat duduknya sebab yang lebih awal telah habis tiketnya.
Segerombolan cewek berjilbab tampak di kejauhan, eh ternyata itu rombongan tour kami pula. Hiruk pikuk dan lalu-lalang orang dalam stasiun kereta api
Ramsies tampaknya tidak mengenal malam maupun siang, meski waktu telah menunjukkan 22.40 malam ternyata masih ramai dengan kesibukan masing-masing. Kamipun telah bersiap di jalur dimana kereka berhenti yang akan membawa kami ke meneliti lebih jauh tentang sejarah Mesir.