Liburan musim panas (summer) tahun pertamaku di Egypt seharusnya aku nikmati. Seperti teman-teman lain yang menghabiskan waktu dengan tour kebeberapa tempat wisata di Mesir, aktif diskusi, organisasi bahkan memperlancar bahasa arab dengan mengikuti kursus di beberapa lembaga pengembangan bahasa. Namu aku tidak begitu, aku menikmati musim panas kali ini di Indonesia, yang mana bagiku sama saja musimnya, sebab di Indonesia tidak mengenal musim panas, yang ada musim kemarau yang tidak begitu panas. Kalau tidak salah ingat, musim kemarau di Indonesia sama halnya dengan bulan April di Mesir, jadi tidak terasa begitu panas.

Al, gimana liburan musim panasnya? Dah jalan-jalan kemana saja?”. tanyaku pada Alfi teman dekat sekaligus tetanggaku saat kami chatting dengan Yahoo Messenger.

“Wah indah sekali, aku ke Syarm-syekh, ke Sinai, pantai Dhahab dan masih banyak lagi, pokoknya nyesel deh kamu enggak ngikut”. Jawabnya.

“Tapi gimana lagi, ya…. tetep asyik disini lah bisa kumpul keluarga, ke puncak dan lainnya”. Sergahku agar aku tidak ketahuan kalau iri.

 

Bahkan bukan hanya chatting saja, ketika dia tour ke Sinai dan sedang mendaki bukit Tursina masih sempat menjadikanku ngiri saat membaca smsnya dia. Dan masih banyak lagi sms yang dia kirimkan setiap harinya tentang aktivitasnya di Kairo. Juga Habib Maulana yang selalu ngirim email tentang aktifitas teman-teman Fismaba hingga tentang pribadi temanku.

Tiga bulan setengah aku di Indonesia, melihat cerita teman-teman yang selalu rajin mengirim email, sms, chatting dan kadang juga telpon menjadikan aku rindu suasana di Mesir dan ingin bersama-sama mereka menikmati panasnya kota Kairo. Tapi jika melihat salah satu tujuanku ke Indonesia untuk berobat mata (operasi), akhirnya akupun lebih menikmati liburan ini, karena bisa setiap kamis ke Puncak Bogor dan Cianjur karena sekalian kontrol mata. Juga setiap minggu ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tentunya tujuannya adalah Keong Mas sebab yang lain rasanya sudah pernah semua. Studio film 3D (3 dimensi) yang membuat siapa saja akan serasa menjadi aktor saat menonton film di dalamnya. Dan tentunya kami selalu pergi bertiga, bukan dengan adikku dan kakakku, melainkan dengan kedua orang tuaku. Cos… i’m only one, so …

Bukan hanya di Jakarta saja, setelah kontrol mata bertahap menjadi dua minggu sekali, aku mencoba membantu orang tua, ya.. kerja kecil-kecilan. Aku mendapat jatah mengurus proyek bangunan di Kediri – Jawa Timur, pengalam pertamaku langsung terjun di dunia kotraktor dan langsung menjadi pengawas serta penanggung jawab keuangan meski yang dapat tender orang tuaku.

Hidupku bagaikan burung, yang mudah terbang kesana kemari, hidupku 10 hari di Kediri 4 hari di Jakarta dan 1 hari jalan. Jakarta – Kediri terasa sangat dekat, padahal membutuhkan waktu 15 jam menggunakan kereta api malam Bangun Karta Executive. Kereta api langgananku karena paling mudah dijangkau, selain nyaman, murah, juga stasiun terahirnya di Jombang yang tidak jauh dari Kediri.

Di Kediri aku bisa bertemu semua sanak saudara, teman-teman sekolah Ibtida’iyyah di kampungku dan GEC (General English Course) of Mahesa Institute di kota Pare Kediri. Temanku Ibtida’iyyah yang semuanya sekampung denganku hanya 3 orang termasuk aku yang meneruskan hingga jenjang universitas dan selebihnya rata-rata telah bekerja. Maklum rata-rata kehidupan mereka kelas menengah ke bawah, hanya kami bertiga yang merasa beruntung karena orang tua kami mampu membiayai hingga ke universitas. “Puji syukur kepada Allah ta’ala atas limpahan rizki yang diberikan kepada orang tua kami”. Pujiku dalam do’aku.

“An, kapan kamu akan kembali ke Kairo?” Tanya ibuku disaat kami santai duduk di depan rumah menikamti indahnya malam besama tetangga sekitar rumahku.

Tak tahu buk, aku juga masih bingung. Gimana kalau setelah lebaran?” jawabku.

“Ya terserah kamu, tapi rombongan pesantren Tambak Beras besok pertengahan bulan Oktober, kebetulan bapakmu yang membookingkan ticket”. Jelas ibuku.

Aku bingung harus gimana, hingga akhirnya aku putuskan untuk kembali bersama rombongan Tambak Beras mengingat barang bawaanku yang tidak mungkin aku bawa sendiri. Sebuah keputusan yang harus bijaksana, mengingat titipan dari teman-teman sangat banyak meski aku ingin kembali setelah lebaran dengan menaiki Emirates sekalian aku mengunjungi saudara-saudaraku di United Arab Emirates.

—-o0o—-

Hari pertama puasa Ramadlan 1426 H. aku masih sempat makan sahur bersama keluarga dan sore harinya aku harus ke Kediri untuk melihat proyekku yang kata bibiku (wakilku disaat aku di Jakarta) telah usai. Proyek yang aku targetkan selesai 35 hari, ternyata molor sampai 42 hari, jadi pikirku aku nanti bisa korupsi, eh tapi sial, malah rugi. Dasar otak-otak busuk. Hehehehehe…

Kali ini aku pergi ke Kediri yang terahir kalinya, sehingga akupun lebih banyak terfokus untuk kunjungan ke sanak-saudara untuk pamit dan agar perjalanku untuk lebih mengetahui penggunaan otak secara benar di restui dan dido’akan. dua hari adalah waktu yang singkat, hingga aku harus kembali ke Jakarta, dan kini aku harus berpisah dengan teman-temanku. Dan untuk yang terahir, aku ingin hidup bersama kedua orang tuaku lebih lama.

Tepatnya tanggal 16 Oktober 2005, isakan tangis dan air mata dengan sendirinya keluar saat aku berpelukan dan say good bye dengan ibuku saat di pintu masuk ruang check in Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta. 20 temanku telah menjalani pemeriksaan barang, hingga tiba giliranku. Setelah selesai, giliranku harus mengeluarkan kesedihan dengan Ayahku yang sengaja mengantar sampai ke depan imigrasi bandara. Pesan kedua orang tuakupun susah aku lupakan. Saat aku memeluk ibuku, ibukupun berpesan “An jaga diri baik-baik dan belajar yang sungguh-sungguh. Jangan neko-neko”. Dan saat mencium telapak tangan Ayahku, rasanya berat sekali aku melepaskan tangan ayahku selama beliau berpesan “belajar yang sungguh-sungguh, jaga kesehatan”, rasanya aku ingin menangis lagi karena belum bisa memenuhi keinginan beliau selama ini.

Berat kaki ini untuk melangkah menuju ruang tunggu pesawat Yamania, tapi ini tugas mulia dalam hidup manusia, tugas untuk lebih mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta menjadikan mulia di sisi Allah Swt.

—-00o—-

Aura langit di pagi buta menampakkan cahaya indahnya. Sesaat aku dikejutkan oleh adanya sejumlah menu makanan yang telah dihidangkan oleh pramugari di hadapanku saat aku rehat tadi. Kutatap kaca jendela ternyata masih cukup gelap. Hanya kerlap-kerlip lampu yang terlihat ikut mewarnai indahnya langit yang menyala di sayap pesawat Yamania Airways yang akan membawaku ke Kairo. Aku bingung harus bertanya pada siapa tentang waktu. Kulihat Pak Dion disebelahku masih tertidur lelap. Kembali para pramugari menghampiriku dan menyuguhkan minuman soft drink untuk merefress setelah tertidur sebentar. Mungkin ini adalah menu terakhir kami sebelum mendarat di bandara international Sana’a Yaman dan juga sebagai makan sahur. Kulihat jam di monitor masih menunjukkan pukul 02.00 pagi lokal time distination. “Ahhhh…. malam yang panjang, sampai bangun tidurpun masih gelap gulita.” Gumamku dalam hati. Memang perjalanan ke timur malamnya lebih panjang.

Pagi ini udara terasa dingin sekali, di monitor terlihat temperatur udara minus 10 derajat celcius, suhu yang dingin sekali. Tepat pukul 04.00 pagi pesawat yang kami tumpangi landing di Sana’a International air port di Sana’a Yaman untuk transit sebentar sebelum melanjutkan ke Kairo. Saat keluar dari pesawat, udara terasa dingin tapi tidak terlalu dibanding dalam pesawat, kini kira-kira 17 derajat celcius. Lumayan dingin untuk ukuran orang katulistiwa. Akupun merasakannya hingga menembus pori-pori kulit tubuhku. Kulihat teman-temanku kebanyakan menggunakan jaket, hanya pak dion yang menggenakan pakaian, sedang aku hanya mengenakan kaos oblong.

Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Sana’a Yaman. Sebelumnya aku menaiki Kuwait air ways yang transitnya di Kuwait. Terlihat pepohonan kecil di sekeliling bandara menambah semilir dinginnya udara, kami ramai-ramai dihantarkan sebuah bus menuju tempat dimana kami harus melapor diri atau check in.

Di ruangan yang tidak begitu lebar, sedikit terhangatkan sebab tertutup rapat oleh dinding dan kaca. Berjubelnya orang-orang dari berbagai tujuanpun menambah hangat suasana. Terlihat kebahagiaan di wajah teman-temanku termasuk juga Laily, cewek tunggal dalam rombongan kami. Beberapa saat setelah kami didalam ruangan, counter tiket untuk tujuan kairo dibuka, dan itupun langsung diserbu para penumpang, termasuk aku yang sempat antri beberapa orang. Tak lama kemudian kami diantarkan kembali ke gedung yang lain menggunakan kendaraan bus.

Di ruang tunggu yang tidak begitu luas terisi penuh dengan meja dan kursi yang cukup menampung kira-kira sampai dua ratusan orang, juga terdapat dua televisi besar ukuran 29 inc yang dengan lantang mengumandangkan adzan subuh. Hampir semua penumpang tak terkecuali orang-orang yang menggunakan pakaian ihrom mulai berbondong-bondong menuju bilik kecil di pojok ruangan dan bersama-sama melaksanakan sholat subuh berjama’ah kecuali aku dan beberapa temanku. Kami asyik ngobrol sambil memainkan laptopku, sesekali kami melakukan potret bersama. Hasil foto kami langsung ditransfer ke laptopku yang sudah menyala dari tadi. Begitu juga Laily yang tidak mau ketinggalan di foto pun ikut menyaksikan hasil beberapa jepretan kami.

Kami menikmati suasana yang terasa sepi tanpa adanya musik yang mengiringi. Sedangkan siaran televisi hanya menampilkan ceramah agama dan itu membuatku bosan sekaligus heran sebab hampir semua orang justru asyik menonton ceramah tadi. Aku jadi berpikir sejenak dan terasa malu jika mengeraskan musik laptopku. Terlihat di tas temanku ada headphone, tanpa pikir panjang, aku meminjamnya. Kerinduanku pada Ellysa pun berujung dengan memutar albumnya.

Di saat kami sibuk dengan sendirinya, pak Dion pergi menunaikan sholat subuh dan bahkan sempat meminjam sandalku untuk mengambil air wudlu sedang dalam benakku terbersit pikiran, “Ah…. nanti aja, toh waktunya masih lama,” saat kita sedang asyiknya mengabadikan kenangan, tiba-tiba terdengar teriakan “Jeddah….. Jeddah….. Cairo…. Cairo….. Cairo…. Qohiroh bi Syur’ah,” kita yang sedang asyik bersantai-santai reflek membereskan barang-barang bawaan masing-masing termasuk juga aku hingga tidak sempat mematikan laptop, hanya aku tutup begitu saja lalu memasukkannya ke dalam tas, padahal setahuku baru nanti jam 06.00 pagi kami take off.

Hampir seisi bandara telah keluar, sedang rombongan kami masih bergerombol mencari seorang sosok yang tengah berinteraksi dengan tuhan. Aku sudah tidak bisa berpikir panjang,….. hanya penyesalan karena pagi ini tanpa ada halangan aku tidak sowan pada-Mu Tuhan, tentu Tuhan murka kepadaku. Teringat masa kecilku, jika aku tidak makan, ibuku langsung memarahiku. Padahal ini hanya soal makanan, toh kalau aku sudah merasa sangat lapar juga akan makan. Tapi kalau soal ibadah, ibuku tidak pernah memberi ampun kepadaku, bukan hanya omelan yang menari di telinga tapi juga terkadang airpun membasahi mukaku di saat asyiknya tidur, hanya demi cintanya ibuku agar aku tidak dimarahi Tuhan. Kini ibuku tak lagi mendampingiku. Aku hanya bisa merenungi bahwa dari dulu kalau menunda pekerjaan berarti pertanda gagal alias tidak terlaksana, di pagi ini apakah akan aku temui lagi pagi seperti saat ini di Sana’a dengan melakukan pemujaan terhadap-Mu.

—-o0o—-

“Tuhan pagi ini aku berdosa kepada-Mu, bisikan syetan telah melumpuhkan hatiku, sehingga aku lengah dan tidak bisa melaksanakan kewajibanku sebagai hamba-Mu. Tuhan hambamu yang nista ini akan berjuang dalam peperangan yang teramat panjang demi menghilangkan satu kata “BODOH”. Tuhan berikanlah petunjuk-Mu jika suatu saat nanti aku tersesat atau lupa jalan kepada-Mu,”

2 Responses to “Catatan Akhir Musim Panas 2005 di Indonesia”

  1. imam mawardi Says:

    kediri semakin elok, lhooooo

  2. rieanth Says:

    kirim k email saya tentang tempat” wisata d kairo (musim panas dan musim dingin), kl anda tdk keberatan. saya blm pernah k kairo tp pengen mendengar banyak tentang kairo ^^, dan kota” yg berbahaya di kairo (tingkat kejahatan), sekitar sungai nil yg da d kairo. ingin sekali saya tau tentang kairo. terima kasih.
    rieanth_joe@yahoo.com


Leave a Reply