keindahan bersamamu di Luxor, Aswan, Abou Simbel.
Maret 16, 2007
Malam itu aku meinggalkan rumah pukul 21.00 malam dan langsung menuju Ramsies Train Station desertai 3 kawanku. Setibanya disana ternyata kami datang paling awal datang, sedang rombongan yang lain belum tampak. Jadwal kereta yang akan kami naiki pukul 23.00, lumayan cukup malam untuk melakukan perjalanan ke Luxor, ya.. apa boleh buat karena kereta ini yang masih tersisisa tempat duduknya sebab yang lebih awal telah habis tiketnya.
Segerombolan cewek berjilbab tampak di kejauhan, eh ternyata itu rombongan tour kami pula. Hiruk pikuk dan lalu-lalang orang dalam stasiun kereta api
Ramsies tampaknya tidak mengenal malam maupun siang, meski waktu telah menunjukkan 22.40 malam ternyata masih ramai dengan kesibukan masing-masing. Kamipun telah bersiap di jalur dimana kereka berhenti yang akan membawa kami ke meneliti lebih jauh tentang sejarah Mesir.
Goyangan dan bunyi khas kereta benar-benar mengingatkanku akan kereta Bangun Karta yang biasa aku naiki dari Jakarta ke Jombang atau sebaliknya. Kesenyapan malam rupanya tidak akan aku rasakan di malam ini karena kebisingan suara roda kereta dan lalu lalang orang lewat. Kami yang masih belum saling akrab antara satu sama lain menjadikan hanya beberapa orang saja yang aku ajak bicara, ya…karena hanya mereka yang dari Indonesia saja yang aku kenal. Tour kali ini bisa dibilang tidak banyak yang ikut, bahkan untuk cowoknya hanya 6 orang, 2 orang warga Thailand dan 4 orang Indonesia itupun yang satu telah berkeluarga. Sedang untuk ceweknnya lumayan banyak, ada 10 orang dan kesemuanya berkwarganegaraan Malaysia sehingga wajar jika dihari pertama kami masih belum bisa saling akrab.
Matahari terlihat telah lama menampakkan cahayanya, “ah ternyata aku tertidur lama” gumamku dalam hati. Kulihat kanan kiriku nampak area persawahan yang sangat luas sekali “aku kira selama ini mesir adalah gurun sahara saja, ternyata luas juga area persawahannya” cakapku pada muslim. Kereta yang terus melaju hingga nampak disebelah kanan kami adalah sungai Nil yang yang membemtang panjang, tampak pula perahu-perahu kecil yang turut mewarnai indahnya sungai Nil.
Pukul 11.00 kami sampai juga di kota Luxor dan langsung menuju hotel Everest yang tidak begitu jauh dengan stasiun kereta api. Dihotelpun kami tak lama, hanya check in dan ganti baju serta sholat Dhuhur. Mandipun kami tidak sempat, tapi kami tetap enjoy.
Dengan menaiki Toyota Coaster kami dihantarkan mengelilingi kota Luxor yang penuh dengan sejarah, dipandu dengan guide yang cantik dan murah senyum sehingga rasa capek kamipun bisa sedikit berkurang.
Di masa Fir’aun, kota Luxor pernah dijadikan sebagai pusat negeri Mesir. Oleh karenanya, kota ini sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan bersejarah, seperti kuil-kuil dan lain sebagainya.
Kota Luxor merupakan bagian dari kota Thebes kuno. Mulanya kota ini dikenal dengan nama Wizy-Wany, kemudian orang Yunani menyebutnya dengan nama Thebes. Bahkan seorang penyanyi Yunani (di kala itu) menyebut kota ini dengan nama “seratus pintu” karena banyaknya pilar-pilar yang tersebar di seluruh penjuru kota. Selanjutnya setelah kedatangan Islam, orang-orang Arab menyebut kota tua itu dengan nama Al Aqshar, yang artinya istana-istana.
Kalau pemisahan kota Cairo dengan Giza oleh Sungai Nil, menurut Fir’aun, sebagai pemisahan antara kehidupan dan kematian (Cairo sebagai tempat kehidupan dengan berbagai aspeknya, dan Giza sebagai tempat pemakaman bagi yang sudah meninggal), maka hal seperti itu terjadi pula di Luxor. Kehidupan dan kematian dipisahkan oleh Sungai Nil. Karena itulah di seberang barat (west bank) terdapat kuburan-kuburan lama yang telah berumur ribuan tahun dan ditemukan di berbagai tempat hingga disebut Valley of the Kings. Sedangkan di seberang timur (kota Luxor sekarang) itulah tempat kehidupan hingga sekarang.
Itulah sedikit uraian dari guide kami yang dalam penyampaiannya menggunakan bahasa English British. “wah kalau begini aku harus pasang telinga agar paham sebab guidenya ngomong British” cakapku pada Muslim yang duduk didepanku. Diapun hanya tersenyum, “I pun tak faham, cepat sekali dia cakap” jawabnya padaku.
Yang menjadi tujuan pertama kali ini adalah King of Valley. Untuk memasuki kawasan King of Valley kami dihantarkan oleh kereta diesel karena kendaran bus tidak diperkenankan memasuki area tersebut. Terlihat bukit-bukit besar beserta lorong-lorong yang menuju gua pekuburan para raja Fir’aun sangat banyak sekali. Lukisan pahat khas mesir kuno yang nampak didinding dengan warna-warni yang tersirat menjadikan siapa saja tak mau lepas memandangi disetiap sudut dinding lorong hingga tempat makam fir’aun, lukisan yang menggambarkan sejarah peradaban dari mesir tempoe doelu mewarnai disetiap lorong dan tentunya ada nilai sejarah tersendiri disetiap lukisan. Tapi kami hanya mengunjungi 4 dari 60 makam Fir’aun, itupun kesemuanya dilarang melakukan pemotretan didalam area makam, entah apa sebabnya yang pasti setiap pintu masuk bertuliskan “no photo and video” tapi kami kadang usil, kami masih melakukannya, curi-mencuri pandang kami lakukan dengan petugas keamanan demi terealisasinya sebuah gambar yang menjadikan kenangan dihari nanti.
Karnak temple yang selama ini aku melihat di computer kini aku bisa melihatnya secara nyata, keindahan dan kebesarannya memang pantas disebut temple terbesar didunia, kami bergerombol sembari mendengarkan penjelasan guide kami, dan kadang sesekali aku mencuri photo guide yang lumayan cute itu. Dalam karnak temple ini kamipun tak lama, kami diberi waktu free selama 40 minutes setelah guide menjelaskan semua legenda Karnak temple ini, kamipun menelusuri seluruh area karnak temple. “eh sudah jam 4.30, saatnya kita pulang” ajakku pada Muslim dan Tajuddin, terlihat dari kejauhan ada Wira dan Sobri, kamipun sepakat keluar bersama para turis yang lain. Ups aku lupa kalau sebenarnya kita disuruh kembali ke tempat dimana kita berkumpul tadi, sedang kamipun kini telah berada di area parkir. “Kok belum ada siapa-siapa?” tanyaku pada muslim. Akhirnya kami jalan-jalan mencari souvenir. Beberapa souvenir pun kami beli, tiba-tiba Nisa datang menghampiri kami dan marah-marah sebab kami menghilang. “An! U must have commitment” ucap sang guide kepadaku dengan muka mencuram setelah kecapean mencari kami.
Keindahan Luxor dimalam hari memang benar-benar indah, tidak seperti di Cairo, lebih-lebih keindahan Luxor temple yang nampak sangat elok dengan dihiasi lampu-lampu yang memancarkan kesetiap sudut temple sehingga suasana semakin indah. Rasa letih yang seharusnya kami rasakan sama sekali tidak menghinggapi kami, hanya rasa ketakjuban yang mewarnai disetiap kami menemukan dan melihat sesuatu yang baru.
”””
Pagi buta dan matahripun belum menampakkan sinarnya, suasana kota yang kemaren aku lihat penuh dengan kesibukan dan lalu-lalang para pelancong yang ingin mencari hiburan dan pengetahuan baru belum terlihat sama sekali, sedangkan kami harus sudah check out dari hotel yang melepaskan keletihan kami karena jadwal kereta api yang berangkat menuju kota Aswan jam 06.00 pagi.
4 jam kami berada dalam kereta yang menghantarkan ke kota Aswan dari Luxor. Kota Aswan adalah salah satu kota yang paling cerah yang letaknya di ujung selatan Mesir dan di sebelah timur (east bank) sungai Nil. Keindahan sungai Nil terasa jauh berbeda dengan di Cairo, terihat hamparan padang pasir dan bukit-bukit karang di seberang Nil (west bank). “yalla take picture bersama-sama” ajak Tol’at sang penanggungjawab tour kami di depan High Dam, sekejap saja beberapa kamera telah ditangannya, kamipun berphoto bersama bahkan rombongan dari Darul Wafidienpun ikut photo bersama. High Dam adalah tujuan pertama di kota Aswan ini.
Manelusuri keindahan Nil dengan manaiki kapal motor akhirnya sampai pula kami di Valley Temple yang letaknya ditengah-tengah Nil. Sebuah bangunan besar dan didepannya terdapat banyak tiang-tiang besar yang tertata rapi dan beberapa symbol Coptic Christian mewarnai dibeberapa sudut Valley Temple. Menjelang sore kamipun kembali ke hotel Norhan.
“an ayuk jalan-jalan” ajak Muslim setelah makan sore. Akupun setuju dengan ajakannya, ah ternyata muslim sudah ada janji dengan Nisa’. “tapi kite ke warnet dulu, sebab tadi die kate nak check mail” terangnya padaku. Muslim masuk duluan ke warnet, sedang aku menunggu diluar. tadinya aku pikir sebentar, ya.. akhirnya akupun ikutan check mail. Karena computer yang aku pake pertama tidak bisa optimal sehingga aku pindah kekomputer yang lain dan berdekatan dengan cewek rombongan kami, waktu itu aku masih belum tahu namanya, ya… maklum la.. akukan pendiam, hehehehe. Aku sempat melirik nick cewek yang ada di dekatku, dengan lirikan kecil aku berhasil mendapatkan ID simply_capdee, meski aku harus berkali-kali memastikan agar tidak salah. Dengan memaki ID mohammad_ahmad_mahmud aku mencoba masuk ke IDnya, tidak begitu lama teman-teman yang lain sudah pada finish, so kamipun tak lama chat, tapi aku masih sempat menggunakan ID aanzain dan ternyata dia sudah tahu, so….. malu deh aku rasanya, hehhehe.
Menelusuri kota aswan di sore hari memang benar-benar indah, kamipun bingung hendak kemana, “udah gak papa, kita naik perahu aja” ajakku pada Muslim. Dengan 20 LE setelah tawar menawar, kamipun berlayar dengan menggunakan perahu layar. “wah asyik juga ni, eh kite dari kemaren ni belum saling kenal, rasanya tak sedap la kalau kite tak saling akrab” cetus Muslim mengajak mengawali pembicaraan. kita sebagai cowok yang mengawali kemudian Mardhiah, Nisa’ dan Nurdiana telah menyebutkan nama lengkap dan latar belakangnya. “O… ternyata panggilannya Diana cewek yang ada disampingku tadi”. gumamku dalam hati.
Keindahan Aswan nampak jelas, bangunan yang berdiri rapi disertai taman-taman disetiap sudut kota, burung-burung bangau yang berbaris rapi terbang di angkasa. Hamparan padang pasir dan bukit-bukit kecil yang berada diseberang kanan kami nampak begitu elok, tenggelamnya mataharipun tak kami lewatkan, sehingga mejadikaku tertarik untuk melakukan beberapa pengabadian matahari tenggelam. Gelembung-gelembung ombak kecil dan bunyi percikan air menambah keromantisan suasana sore hari ini.
Malam menampakkan kegelapannya, tak terasa kami sejam berada diatas sungai Nil, banyak hal yang kita omongkan, terlebih Muslim yang paling banyak bicara, hehehe.. wajar diakan dijuluki croconile. Malam pertama di aswan ini kami tidak bisa bergadang larut malam, karena besok paginya kami harus ke Abou Simbel dan berangkat pukul 03.30 pagi karena harus berkumpul dikawalan polisi.
Terlihat enam puluhan bus telah berkumpul, waktupun menunjukkan pukul 04.30, kami beriringan berangkat ke Abou Simbel. Suasana pagi yang begitu indah di hamparan sahara saat matahari terbit dari ufuk timur, Sikin yang merekam beberapa menit selama matahari terbit yang terlihat olehku dari belakang kursinya, aku pun tidak mau ketinggalan, juga teman-teman yang lain turut mengabadikan pemandangan yang sangat indah ini, tapi aku jadi teringat saat di puncak Bromo, dimana saat sunrise hampir sama dengan sekarang, bedanya kalau sekarang aku diatas kendaraan yang melaju kencang sedang di Bromo aku berdiri diatas puncaknya dengan pemandangan kawah dan dataran padang pasir yang luas.
Pukul 8.10 kami sampai di kawasan Abou Simbel, ma’bad ramsies ini berdiri kokoh berada didalam 2 bukit. patung-patung besar ramsies dan istrinya sejak beribu-ribu tahun yang lalu masih terlihat kokoh meski telah mengalami pemugaran beberapa tahun yang lalu yang bekerja sama dengan 4 negara yaitu Inggris, France, Amerika dan Mesir.
Patung besar yang menggambarkan keagungan raja Remises II sehingga menjadikan dirinya ingin disetarakan derajatnya dengan tuhan terbukti disini, didalam ma’bad Remises terdapat empat arca dewa dan salah satunya adalah Remises. Sikin juga tak mau kehilangan kenangan berharga ini, dengan handycamenya ia merekam seluruh kawasan Abou Simbel meski guide belum selesai menjelaskan sejarah Abou Simbel ini. “yalla obyek disini bangus sangat, take picture sama-sama” ajak Thol’at yang mungkin sudah tahu bahwa obyek pengambilan dari kiri patung akan tampak sangat indah, tapi sayang tidak semuanya ikut photo bersama.
Mungkin karena terlalu capek setelah mengelilingi kawasan Abou Simbel hingga terlihat semua teman-teman tertidur dalam kendaraan saat perjalanan pulang. Akupun tidak menyia-nyiakan moment ini, beberapa picture terabadikan dari gambar teman-teman yang tertidur saat perjalanan pulang. Mataforgana yang tampak ditengah hamparan padang pasir sepanjang jalan yang tidak menampakkan ujung pangkalnya. Aku merasa berada ditengah-tengah sahara yang tak berujung, seandainya aku turun, dan jalan aspal yang memtang hingga ke Aswan tidak ada, aku pasti tidak tahu akan kemana, yang jelas, mungkin aku akan hilang ditelan ketidak tahuan.
Beberapa kilo sebelum memasuki kota aswan, kami kembali saling memperkenalkan diri, bahkan saling tunjuk menunjuk sehingga suasana menjadi ramai, akhir cerita, meski tidak semua kebagian sebab waktu yang begitu cepat hingga tak terasa kami sudah berada di depan hotel kami.
Hari yang menampakkan kecerahannya membuat aku malas untuk keluar dari kamar hotel setelah makan dan kecapean dari Abu Simbel, bahkan teman-teman yang lainpun lebih memilih istirahat di kamar. Terkecuali teman kamar sebelah kami yang lebih memilih shopping dan menghabiskan hari dengan jalan-jalan. Sore hari, karena aku merasa sudah fresh dan ingin mengetahui lebih jauh bagaimanakah Aswan disore hari. Menelusuri tepi sungai Nil hingga kami sampai di taman yang lumayan indah, banyak sekali orang yang sedang menikamti indahnya malam, air mancur kecil yang dihiasi lampu yang berwarna hijau, merah kuning dan biru sungguh kelihatan memukau, kapal-kapal pesiarpun mulai berjalan menelusuri sungai Nil, tapi entah berlayar kemana, aku sendiri belum pernah menaikinya. Tak terlewatkan pula olehku adalah pasar souvenir, toko-toko yang memajang dagangannya berjajar rapi, disini akupun belanja beberapa souvenir untuk kenangan mendatang, sebenarnya barang-barang yang di jajakan tidak beda jauh dengan yang ada di pasar Husain di Cairo tapi karena nilai momentnya hingga akupun merogoh dompetku dan mengeluarkan beberapa pound hanya sekedar membeli souvenir.
Pagi hari di kota Aswan ternyata beda jauh dengan Cairo, jika di Cairo pagi sudah ramai dengan lalu-lalang orang, tapi disini hanya segelintir saja yang terlihat, jika seperti ini aku teringat di negaraku dikota Yogyakarta, yang aktivitas dimulai pukul 10.00 pagi. Siang hari kami harus berkemas, dan check out dari hotel, tapi tas dan barang bawaan kami yang lain ditaruh di hotel dan melanjutkan penuju pusat pembuatan berbagai jenis perfume. Sambutan yang ramah sekali dan kamipun disuguhi minuman karkade panas ya sekedar menghangatkan tubuh. Aku sendiri bingung akan beli perfume apa, banyak sekali sebenarnya yang ingin aku beli, tapi karena harganya juga mahal, aku tak ingin menghambur-hamburkan uang sehingga hanya perfume sejenis Hugo Boss seberat 25Ml dan special aku belikan untuk ayahku tercinta. Menelusuri sungai dengan valluca cruise yang menghantarkanku menuju Botanical Garden memang sungguh menakjubkan, hamparan padang pasir yang sangat luas sekali lebih-lebih saat dihembus angin kencang menjadikan pasir-pasir berterbangan. Aku tidak mau menikmati keindahan ini hanya dengan duduk dikursi, aku menaiki atap berahu dan berdiri disana, ah,… jadi teringat film titanic, heheheh. Akupun berpose-pose ria untuk dapat mengabadikan obyek gambar yang indah ini. Ups, terlihat Diana berdiri sendiri sambil menikmati pemandangan, akupun mengajaknya take picture bersama.
Sesuai dengan namanya Botanical Garden maka jelas didalamnya pasti terdapat pohon dan tumbuhan tumbuh-tumbuhan. Suasana yang asri tentunya dan sangat kondusif untuk saling berekspresi hingga kami menemukan tempat yang cocok, tempat peristirahatan dengan kursi yang melingkar, sungguh menjadikan wahana untuk saling mengungkapkan perasaan dan unek-unek dihati selama tour. Dipandu oleh Muslim acara panggung bebas ini menjadiakan suasanya semakin akrab, setiap mereka yang kebagian jatah mengeluarkan kebolehan masing-masing, ada yang menyanyi, cerita, melawak dan lain sebagainya hingga yang terahir tajuddin yang menyampaikan tausiahnya tentang pentingnya mentajdidun niat agar tujuan kita tidak berubah dari awal niat kita.
Sebuah suku kecil yang hidup di tepi sungai Nil yang mempunyai bahasa dan adat berbeda dari umumnya orang mesir menjadi tujuan terahir dalam tour ini. Nubian Village yang masih mampu mempertahankan budaya sehingga mampu menarik siapa saja untuk berkunjung dan manikamti keindahan lingkungan sekitarnya atau seperti kami yang hanya penasaran ingin melihat buaya Nil (croconile). “ah ternyata kecil, seperti anak buaya” batinku dalam hati. Muslim dengan keberanianya memegang croconile yang dipajangkan sehingga beberapa teman yang lain mulai tertarik juga untuk memegang buaya ini. Semenjak aku di mesir ini belum pernah menaiki onta, hingga menjadikanku penasaran dan ingin sekali menaikinya. Ups ternyata teman-teman yang lainpun begitu, sehingga kami hanya berphoto diatas unta karena waktu yang tidak lama berada dikawasan Nubian Village ini.
Selama sejam kami dihantarkan valluca cruise dari kampoeng Nubian hingga kota Aswan. Kini kami harus terburu-buru karena waktu telah menjukkan pukul 17.00 sedangkan kereta yang akan membawa kami kembali ke cairo berangkat pukul 18.00.
Tepat pukul 18.00 kereta api tujuan kairo telah berada di jalur 2, kamipun bergegas memasuki gebong sesuai dengan yang telah kami pesan. Kami semua berada dalam satu gerbong tidak seperti waktu berangkat yang terpisah menjadi 2 gerbong sehingga dalam perjalanan pulang ini kami bisa saling bercengkrama, bercanda ria, main tebakan dan juga melihat photo-photo tour kami yang telah tersimpan dalam note bookku. Malampun semakin larut, aku yang bersampingan dengan Nisa dan Mardhiah ngobrol kesana kemari tanpa ada ujung pangkalnya. Sedang teman-teman yang lain sedang sibuk dengan acara saling tukar massage or souvenir, “eh tolong dong ditulis apa aja” pintaku pada Nisa. Sebab akupun tidak mau ketinggalan dalam menggunakan momen terahir ini. Tak terasa rasa kantukpun menghinggapiku dan beberapa teman yang lain sehingga akupun tertidur pulas.
Terlihat teman-temanku yang lainpun masih tidur disaat aku terbangun. Rasa hauspun tak dapat dielakkan sehingga aku mengambil air minum yang berada didepanku. “ups apa ni? Ada souvenir disini” batinku. Terlihat dipojok souvenir tertulis untukku, tapi sayang dia berpesan untuk dibuka dirumah.
Pagi itu teman-teman banyak yang saling tukar souvenir, sedang aku sendiri apa yang akan aku berikan. Topi putih bertulisakan LUXOR yang di sejak tadi aku lipat dan aku masukkan saku jaketku akhirnya aku berikan kepada Diana. “emmm makasih sangat, tapi I tak de nak yang I berikan, tak apekan?” cetus dia saat menerima souvenir dariku. Sedang Nisa yang berada di sampingku akhirnya aku kasih korek api “Nis ni matches, kalau u bosan (jemu) bakar saja?” pintaku sambil memberikan korek apiku.
Matahari belum memampakkan sinarnya, station kota Giza yang barusan terlewati pertanda sebentar lagi adalah Kairo atau Ramsies. Kamipun bersiap-siap menata barang bawaan kami dan membawanya ke depan pintu kereta. Keretapun semakin lambat hingga akhirnya berhenti. Suasana kota kairo rupanya masih terasa sangat dingin jauh berbeda dengan kota Aswan saat tidur harus menyalakan kipas angina agar tidak merasa kepanasan.
Sebelum kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, kami masih menyempatkan photo bersama-sama sebagai kenangan terahir. “ Nis ni buat u”. ucapku sembari kupasangkan topi merah kesayanganku dikepalanya tapi sayang ternyata hanya untuk berphoto aja, sebab setelah kami melakukan pengambilan gambar, topiku dikembalikan lagi.
Kini aku kembali menemui hiruk-pikuk kota kairo yang padat dengan populasi penduduk terpadat sehingga hendak ke kawasan Nasr city saja harus melalui kemacetan jalan. Dan tepat pukul 07.00 pagi aku masuk rumahku di kawasan 10th Dc. Tentunya dengan hati yang gembira dan puas.
Februari 8, 2008 at 6:38 am
ceritane sih asyik… sayang……… seribu sayang….. tulisane ga bisa di perkecil lagi?
pedesh mripatku bacanya..(^~^)