Pagi menjelang, mataharipun belum menampakkan sinarnya aku menuruni tangga pesawat Egyptian dan berjalan menuju tempat keramain orang yang sedang antri di imigrasi old air port Cairo. Ini adalah pengalaman pertamaku keluar negeri dan pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di bumi para nabi ini. Aku dan 15 temanku serta 1 pengantar dari tambak beras yaitu Bapak Abdurrohim mulai keluar dari dalam ruang air port dan memutuskan menunggu di ruang tunggu kedatangan. Aku bertanya –tanya dalam benakku, “kok lama sekali sih yang jemput” gerutuku. Salah satu temankupun berusaha menghubungi dengan menggunakan kartu telpon (SIM Card) yang sempat di kasih oleh orang Mesir, namun sayang, ketika baru saja ngomong sebentar sudah mati, entah habis pulsanya atau memang dimatikan. Read the rest of this entry »