Cairo in the First Time (Diary Mir’atul Husna Bag. I)
April 12, 2007
Pagi menjelang, mataharipun belum menampakkan sinarnya aku menuruni tangga pesawat Egyptian dan berjalan menuju tempat keramain orang yang sedang antri di imigrasi old air port Cairo. Ini adalah pengalaman pertamaku keluar negeri dan pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di bumi para nabi ini. Aku dan 15 temanku serta 1 pengantar dari tambak beras yaitu Bapak Abdurrohim mulai keluar dari dalam ruang air port dan memutuskan menunggu di ruang tunggu kedatangan. Aku bertanya –tanya dalam benakku, “kok lama sekali sih yang jemput” gerutuku. Salah satu temankupun berusaha menghubungi dengan menggunakan kartu telpon (SIM Card) yang sempat di kasih oleh orang Mesir, namun sayang, ketika baru saja ngomong sebentar sudah mati, entah habis pulsanya atau memang dimatikan.
Satujam sudah kita menunggu, hingga rasa bosan sangat menyelimuti dibenakku, meski teman-temanku berusaha menghibur dengan saling bercanda namun itu tak seberapa membuatku merasa terhibur. Pandanganku kosong kedepan, menembus dinding-dinding kaca, namun aku terkagetkan oleh dua sosok orang Indonesia yang berlari menghampiri kami sembari bertanya “Dari Tambak Beras Jombang?” spontan iya jawab temanku, wah lega hati ini rasanya. “mana yang namanya Atul?” tanyanya pada aku. waduh spontan aku kaget. Mbak Ana malah langsung menunjukku. “Saya Aan, gimana kabarnya ? keluarga di rumah baik semua kan?”, tanyanya padaku. Obrolan kecil mengawali keakrabanku dengan lekku hingga dia pun bercerita tentang kronologi keterlambatan dia menjemput kami. Menurutnya ada kesalah pahaman, dia menunggui kami di hall 1 atau domestic sebagai mana dia dulu datang sedangkan kami di hall 3 international arrival yang sekarang.
“Berjalan – jalan di sekitar air port mungkin bisa mengurangi jenuhku” pikirku, sebab ternyata kami harus menunggu satu jam lagi bus yg menjemput kami.
—
Aku sedikit terheran dengan bangunan yang aku lihat, semuanya berbentuk seperti tumpukan kardus atau kalau di Indonesia seperti rumah susun (rusun) ketika kami menelusuri jalan menuju tempat dimana kami akan tinggal. Salah satu dari panitia berdiri dan berbicara kepada kami bahwa bangunan yang berada di kanan dan kiri ini adalah rumah model Mesir, rumah disini di design seperti ini diantaranya untuk menahan udara dingin disaat musim dingin dan menahan panas disaat musim panas.
Cairo di pagi hari terasa sangat sepi, lenggang aku sendiri sangat merasa asing disini. Setelah acara ceremonial ucapan selamat datang oleh panitia dan kakak-kakak kelas, kami ditentukan dimana aku dan mbak Ana akan tinggal, “Tul, nanti saya antar, kamu disini saja, saya kedepan mencari taxi”. Terang lek Aan kepadaku.
“Wah kok taxinya jelek, tidak seperti di Jakarta atau di Indonesia umumnya “, batinku. Kemudian lek Aan bercerita kalau taxi disini memang jelek-jelek tidak seperti di jakarta. Semua barang kami sudah berada di taxi, lek Aan dan mbak layli menyertai kami. Diperjalanan lek Aan bercerita tentang warung Indonesia dan tentang keMesiran hingga sampai di jalan yang rusak dan becek penuh dengan lalu lalang orang.
Belum selesai aku membayangkan sepenuhnya tentang Mesir, aku sudah dihadapkan oleh lingkungan yang jauh berbeda dengan bayanganku, tapi apa boleh buat, memang inilah kenyataannya, toh aku kesini untuk belajar bukan pindah tempat tinggal.