Matahari baru saja tenggelam, Mbak Laily, Mbak Ana dan aku baru tiba di sekretariat Fismaba untuk mengikuti acara ceremonial penyambutan Mahasiswa baru. orang-orang yang hadir telah menikmati santapan menu pembuka (ta’jil) buka puasa. Aku berlari-lari kecil mengikuti Mbak Laily sambil menuju kamar pojok yang sengaja dipersiapkan untuk perempuan.
 
Tak lama setelah kedatanganku acarapun usai, lek Aan mengajakku jalan-jalan.

“Pak Rohim, maaf saya mau negajak keponakan saya jalan-jalan” Tanya lek Aan.
“Iya silahkan”  jawab pak Rohim, pengantar dari PP. Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.
Rute pertama kami adalah ke rumah lek Aan yang jaraknya tidak jauh dari secretariat Fismaba. Ini lah pertama kalinya aku tahu yang namanya syuq sayaroh (pasar kendaraan). Menurut lek Aan, Syuq Sayaroh adalah tempat jual-beli mobil secara langsung dari tangan ke tangan atau penjual dan pembeli tidak seperti di show room. Syuq sayaroh ini dilaksanakan pada hari jum’at dan ahad. Area yang sangat luas ini kadang masih saja tidak cukup, terang lek Aan kepadaku. Sambil jalan, kami selalu ngobrol kesana  kemari hingga kami sampai di rumah lek Aan.

Kaget dan bangga ketika kami melihat sosok teman kami sealmamater dulu. “hei.. cak Nadir”. Teriak mbak Ana  histeris ketika cak Nadir keluar dari kamarnya. Kami pun berbincang-bincang lama, lek Aan yang berada disampingku akhirnya ngajak berangkat jalan, sebab takut nanti kemalaman.

Malam ini adalah malam pertamaku di Cairo, kami diajak melihat-lihat pinggiran kota Cairo, kata lek Aan seh…  Walau aku tidak paham sama sekali, tapi aku enjoy dan menikmati, terlebih cak Nadir yang selalu ngajak ngobrol hingga kesedihanku terlupakan.  Pertama aku dikenalkan dengan yang namanya shorofah atau Money Changer. Kemudian  kami melanjutkan perjalanan yang kata lek Aan akan menuju ke mall, “ups.. ternyata jauh juga ya…”, batinku. Sebelumnya aku belum pernah membayangkan mall di Cairo ini seperti apa, apakah sama seperti di Sri Ratu Kediri?! Ups.. ternyata sama. itulah kesan yang muncul dibenakku ketika aku memasuki Sarog Mall.

“Tul, kita cari kartu perdana dulu ya..”, ujar lek Aan
“Iya, saya ngikut aja, sebab saya percaya pean tahu apa yang terbaik buat kita” jawabku
“An, di pojok sana aja aku dulu beli kartu”, terang cak Nadir.

Belum sampai pojok, lek Aan melihat ada counter handphone dan menanyakan kartu perdana . “saya ini aja lek, kok rasanya mudah di ingat”, itulah ijtihadku dalam memilih nomor 01099358xx tentunya dengan harapan semoga dengan kartu ini aku bisa komunikasi dengan sesama.

“Tul, sekarang kita cari selimut yuk, sekarang sudah musim dingin, harganya paling gak beda jauh dengan di Husain atau Ataba, jadi mending beli disini aja, gimana ?” Tanya lek Aan.
“iya deh gak apa-apa”. Jawabku

Gerai perlengkapan rumah yang ada di lantai 2 sarog mall masih teringat jelas di benakku, saat dimana  aku bingung menetukan type dan dan warna selimut yang hendak aku beli. Tapi akupun tidak ingin berlama-lama disini, hingga aku putuskan untuk memilih selimut yang di bentangkan tadi yang dijadikan sample saat kami baru memilih-milih.

Kini kami keeling-keliling mall, meski aku gak ikut membawa selimut, namun aku merasa kasihan sama lek Aan dan cak Nadir sehingga aku putuskan untuk istirahat saja sambil menunggu cak Ihya’ yang telah dihubungi oleh lek Aan dan katanya akan menyusul kami.
Cerita kesana-kemari tanpa ada ujung pangkalnya selalu aja ada, sehingga tidak pernah kami merasakan kesan sepi.

“Tul, kamu disini bebas mau berteman dengan siapa saja, namun saranku, sebaiknya kamu jangan pacaran dulu, sebab pacaran di Kairo tidak bisa dibuat main-main”. Itulah pesan lek Aan yang masih teringat betul olehku, cak Nadir pun menganjurkan hal yang sama. Lek Aan bercerita kalau dia disini punya banyak teman dekat cewek terutama mbak Bella, namun dia menuturkan belum ada yang cocok satupun dan dia juga berkomitmen kalau selama dia di Kairo tidak akan pacaran. Hayo.. bisa gak ya..

Obrolan lama kami akhirnya dikagetkan oleh kedatangan cak Ihya’, kakak kelas yang sudah dari tadi kita tunggu-tunggu. Sesuai ajakan lek Aan, akhirnya kami makan sambil ngobrol di KFC hingga jam 11.30.

Leave a Reply