Kesedihan Yang Terlupakan (Diari Mir’atul Husna Bag. 3)
April 28, 2007
Hari ini aku hanya bisa terdiam dirumah, tiba-tiba ponselku berbunyi;
“Tul, kamu hari ini ada acara?” Oh ternyata Lek Aan, batinku.
“Iya Lek, hari ini aku free gak ada acara, emang mau ngajak kemana?” tanyaku.
“Buka puasa barsama yuk, sesekali saja lah, sudah dimasakin ama temen-temen NU.” rayunya dari sebrang.
“Iya deh, nanti di jemput ya!” Pintaku.Percakapan barusan adalah ajakan Lek Aan untuk buka puasa bersama di hari terakhir pada bulan Ramadlan tahun ini.
Malam ini adalah pertama kalinya merasakan malam Iedul Fitri di Negara orang, biasanya kalau malam Iedul Fitri aku kumpul dengan keluarga lalu melihat takbir keliling yang dilakukan masyarakat sekitar, tapi untuk malam ini terasa sangat berbeda, sepanjang jalan tidak menjumpai satu tradisi pun yang seperti di Indonesia, suara takbir yang terdengar juga hanyalah suara dari komputer yang dinyalakan dari ruang komputer sekretariat PCI NU Mesir.
Ditemani Mbak Iik, Mbak Farah, Cak Mauhib, Cak Ardlan (panggilan Arif Ramadlan) serta tak lupa Lek Aan kami menyantap buka puasa terakhir dengan menu rawon makanan khas jawa timur.
Malam ini katanya Lek Aan akan mengajak kami jalan-jalan ke sungai Nil, aku masih penasaran betul sungai Nil itu bagaimana dan seperti apa, dalam cerita kok menakjubkan sekali.
Malam semakin gelap, bintang-bintang dilangit terlihat sangat indah, kami bertiga jalan ke halte bus di bawabah tiga. Bus nomor 30 memang menjadi prioritas Lek Aan, katanya dan ternyata memang benar dan terkabulkan. Selama 40 menit dihantarkan menuju kawasan Tahrir, Lek Aan selalu bercerita kesana-kemari sepanjang jalan. Yang masih teringat betul diantaranya saat bercerita tentang gereja rumah sakit Coptic yang lumayan besar di kawasan Abbasea.
Menelusuri pinggiran sungai Nil, melihat-lihat pemandangan malam kota Kairo sungguh membuatku terasa benar-benar tidak lagi teringat dengan negeri kelahiranku, Indonesia. Kami berjalan kaki dari ujung terminal Tahrir hingga jembatan patung singa, ketika kami merasakan haus, Lek Aan menawari kami mencicipi teh Mesir. Teh mesir yang aku rasakan saat itu adalah sepet, manis, dan sedikit pahit. Mungkin ini adalah cita rasa khas teh mesir, batinku. Sambil makan kacang kulihat kapal besar (Nil Cruise) melintas, sungguh indah sekali, lampu warna-warni yang menghiasi kapal tersebut sungguh membuatku ingin photo dengan background perahu tersebut.
Rasanya sangat tidak lengkap kalau kita hanya melihat-lihat dari tepian sungai saja tanpa merasakan langsung naik perahu diatas sungai Nil.
“Tul, kita naik perahu sekarang aja yuk, tuh kebetulan sudah ramai”. Ajak Lek Aan sambil menunjukkan kapal yang akan berjalan.
“Wah kok sudah penuh!” gumamku. Itulah kenyataan ketika kami telah naik diatas kapal. Namun nasib baik justru kami dapati sebab aku dan Mbak Ana duduk di deck depan sehingga benar-benar bisa melihat Kairo dengan jelas sejalan dengan laju kapal tenang dan damai.
Selama 30 menit kami menikmati betul keindahan Kairo di malam hari, terlebih suara musik Arab ala Mesir di putar dengan kencang di belakang sambil ada yang menari atau joget.
Malam ini aku benar-benar merasakan betapa beruntungnya aku, betapa mujurnya aku, karena masih terus ada orang yang menyayangiku sehingga hari-hari yang sewajarnya aku sudah dibanjiri dengan linangan air mata, suara tangisan sendu, dan sendiri dalam kesedihan telah sirna oleh saudaraku dan orang-orang sekelilingku.
Ya Allah ya Tuhanku, Maafkan hambamu ini yang selalu merasa kurang sehingga tidak mengerti yang namanya bersyukur.