Keindahan Itu Saat Matahari Terbenam
Mei 2, 2007
(Kembalinya Sebuah Catatan Diari; Tour de Jagad 06 springs in Alexandria)
Bimbang dan ragu masih menyelimuti benakku, capek dan puas atas kerja 10 hariku sebagai sekretaris NU Games I 2006 yang dibilang sukses rasanya ingin menyisakan waktu untuk beristirahat panjang. Tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 23.00 malam, akupun masih belum menemukan jawaban atas keikutsertaanku dalam tour ke Alexandria yang diadakan marhalahku Sapu Jaga, marhalah atau angkatan 2004 dari organisasi Nahdlatul Ulama cabang istimewa Mesir (PCI-NU Mesir). “ah rasanya aku lebih baik kembali menelanjangi buku-buku yang telah lama berserakan tidak aku sentuh karena padatnya aktivitasku” gumamku dalam benak. Malam itu terasa cukup dingin, hingga keluar dari kamarpun aku malas tapi akupun tidak tega membiarkan telpon bedering tanpa ada yang mengangkat. “an ini Den Mumuh atas nama panitia tour Sapu Jagad dan mewakili Tabroni, Arif, Amar dan kawan-kawan lain mengharap keikutsertaan anda dalam tour ke Alexandria”. wah melihat yang mengharap adalah teman-teman dekatku, akupun meng-iya-kan ikut ke Alexandria, sebab menurutku adalah rasa kebersamaannya.
12 Maret 2006 pukul 04.55 Mardhiah menelpon ke ponselku karena sebelumnya aku memang telah berpesan untuk membangunkan pukul 05.00 pagi. Walau terasa sangat berat, tapi apa boleh buat, karena pukul 06.30 kita sudah harus sudah berkumpul di sekretariat NU. Sedang aku sendiri masih harus menyiapkan banyak hal, mulai dari mandi sampai setrika baju. Ya.. ma’lum namanya mahasiswa rantau dan masih single lagi, so semua masih aku lakukan sendiri. Tepat sesuai jadwal yang telah ditentukan panitia aku datang, tapi kenyataan lain, kebiasaan buruk mahasiswa indoenesia menggunakan jam karetpun masih berlaku. Dan pukul 07.30 baru berkumpul semua.
Menikmati indahnya kairo dipagi hari ternyata gak beda jauh dengan Jakarta. Macet dan hiruk pikut orang melakukan aktivitas mewarnai di setiap sudut kota hingga dibutuhkan 1 jam lebih untuk dapat keluar dari kota kairo. Sahara yang tidak menampakkan ujungnya berada di sebelah kiri dan pertanian yang sangat luas berada di sebelah kanan jalan toll yang menghubungkan Cairo – Alexandria. Kami menelusuri indahnya perjalanan bukan hanya oleh pemandangan yang jika melihat ke kiri kita merasakan inilah Africa yang penuh dengan gurun sahara (padang pasir) dan jika melihat ke kanan teringat akan kondisi area persawahan di Indonesia yang tumbuh hijau dan beberapa pepohonan yang rindang serta sungai-sungi kecil yang selalu mengairi persawahan. Ini lah lembah sungai NIL, yang menjadikan Mesir kaya dan subur. Panitiapun tak kalah diam, mereka yang selalu berorasi ngomong dan cerita kesana kemari tanpa ujung pangkalnya karena merasa sukses dalam melaksanakan tour kali ini. “ini adalah pertama saya menghandle tour, mulai dari mengumpulkan peserta hingga menyewa bus tapi Alhamdulillah berkat dukungan kalian, semuanya bias lancar” tutur Den Mumuh dalam sambutannya sambil mengikuti goyangan bus yang melaju kencang di jalan toll kawasan Giza. Pembacaan puisi, menyanyi dan tebakan mewarnai perjalan kami, hingga suasana tak pernah merasa sepi hingga sampai di kota Alexandria.
Alexandria adalah kota tua dan bersejarah yang mewarnai peradaban Mesir karena letaknya yang menghubungkan antara kerajaan Romawi dan Mesir. Selain itu pula Alexandria terkenal dengan keindahan pantainya serta kebersihan kotanya. Akupun hanya bisa ikut menikmati, ya… karena aku hidup bukan pada zaman pra sejarah. Kali ini ternyata panitia menentukan tujuan awal ke qol’ah (benteng pertahanan). Qol’ah didepan mata yang tetap berdiri kokoh mengisahkan banyak sejarah bahkan didalamnya tedapat beberapa museum, museum laut yang didalamnya terdapat tulang ikan dari zaman purba yang panjangnya mencapai 8 meter dan banyak lagi museum yang belum sempat aku kunjungi. Terlihat teman-teman bergerombol, berphoto bersama dengan membentangkan sepanduk bertuliskan “Tour de Jagad 06 springs in Alexandria”. Adzan dhuhur yang dari tadi aku dengar suaranya belum menunjukkan isyarat akan kulaksanan panggilan sowan kepada Illahi, sambil menikmati indahnya laut, kami bersama – sama sarapan didepan qol’ah, dengan memandangi lautan yang hijau dan disertai ombak-ombak kecil semakin menampakkan indahnya dan keagungan ciptaan tuhan.
Sebelum ke tempat tujuan kedua, kami melakukan sholat dhuhur sekaligus ashar di masjid Abu Abbas an Nursi. Tempat kedua kali ini adalah ke International Library yang konon katanya adalah terbesar sedunia yang didalamnya menyimpan beraneka ragam buku dan manuskrip-manuskrip kuno dari zaman romawi hingga sekarang ini yang masih tertata rapi. “ah sama aja dengan setahun yang lalu ketika aku kesini” aku bicara dengan Qodri. Terlihat lift kosong didalam area library, aku dan Qodri langsung masuk dan menuju ke lantai paling atas. “oh ternyata kosong tak ada buku satupun.” Bicaraku saat keluar dari lift. Lantai yang paling atas ini berupa lantai kosong yang tak begitu luas tapi dari sini semua seisi library terlihat dari atas, yach… karena bangunannya terasering jadi tampak jelas dari atas sampai kebawah. Akupun tak bias lama-lama, hanya 2 photo yang aku ambil, dan selanjutanya untuk photo di bawah mengingat MMCku dipinjam oleh Tafa’ul karena dia tidak membawa MMC untuk divicamenya. Di lantai 1 dimana terdapat pula patung dan hiasan-hiasan selain buku dan computer. “ud photo aku di buku besar ini dong……” pintaku pada Mas’ud. terlihat dari jauh ada temanku, “eh sekalian yuk”, ajak Bella. kamipun photo berdua dan entah mengapa, ternyata ada yang tidak senang melihat aku dan Bella photo berdua. Ada seorang yang melihat dengan pandangan sinis namun mungkin wajar, tapi harapanku semoga dia tidak marah kepadaku suatu hari nanti.
Waktu menunjukkan pukul 14.20 kami meninggalkan international library dan menuju mumtazah istana raja Faruq, wah sungguh elok nan asri, pohon-pohon yang begitu rindang tumbuh subur dalam area istana raja Faruq. Area istana yang sangat luas hingga dari depan tidak kelihatan bangunan istananya.
Gedung megah model Andalusia ini tepat berada di tepi pantai, sehingga menjadikan betapa mempesonanya keindahan peninggalan raja Faruq ini. Melingkar dan merapat terasa sangat kompak, duduk diatas rerumputan dan dibawah rindangnya pohon-pohon yang mengayomi sehingga mampu menciptakan suasana yang damai dan tak kalah mas Zaky pun mengawali pembicaraan, diskusi “sapu jagad kedepan” itulah temanya yang aku simpulkan, mas Aly ketua Sapu Jagad yang telah purna memberikan sambutan laporan pertanggung jawaban secara simbolis serta gambaran untuk Sapu Jagad ke depan menambah acara kita semakin ramai karena saling mengeluarkan pendapat masing-masing tentang Sapu Jagad kedepan, aku sendiri hanya diam, tak menyumbangkan satu suarapun. Di ahir acara, Tabroni terpilih sebagai pengganti Aly Trimahno dan akupun ikut terpilih sebagai jajaran formaturnya. Yach… menambah draft kesibukanku. Tapi apa boleh buat, ini keputusan forum. Ya akupun harus menerimnya.
“makan dulu baru pulang” cetusku keteman-teman setelah acara Sapu Jagad ke depan. Indahnya taman istana raja Faruq tidak aku lewatkan, setelah makan aku jalan-jalan mengelilingi luasnya area ini, lautan yang biru dan pantai yang bening sehingga banyak sekali disekelilingnya villa-villa kecil yang mengelilingi pantai menjadikan siapa saja betah tinggal disini.
Pukul 17.15 kami meninggalkan Istana Raja Faruq dan kembali ke cairo. Suasana petang di Alexandria tampak sangat indah sekali, lautan dengan pancaran cahaya kemilauan dan keaneka ragaman lampu hiasan kota yang terdapat di setiap sudut kota menjadikan kita tak mau hengkang meninggalkan kota Alexandria, tapi bus terus melaju ke kairo suasana tambah gelap, dengan 2 guitar yang dimainkan oleh Den Mumuh dan Mirza membuat suasana semakin tidak mau hening, akupun tak mau ketinggalan, meski suaraku pas-pasan tapi kalau masalah berteriak-teriak aku suka, sehingga tak terasa 2 jam aku ikut menyanyi, lagunyapun gak jelas kadang dari awal kadang hanya reff nya saja. Ah tapi yang terpenting terhibur. Sebab sebenarnya aku ke Alexandria merasa bosan meski baru dua kali ini sebab tidak ada yang istimewa banget, tapi karena nilai kebersamaannya maka aku tour ini bagi sungguh sangat luar biasa sekali sebab menjadikanku terkenang saat dimana matahari tenggelam dalam keindahan kota yang terdapat sebuah istana raja terahir Mesir.
Sebuah harapan yang indah, jika kebersamaan, keakraban, dan keceriaan hari ini tidak lenyap begitu saja. Masih kunantikan hari suasana-suasana indah seperti hari ini. Rasa lelah, penat dan lesu malam ini sama sekali tidak aku rasakan, terlebih saat turun dari bus di kawasan 10th District Nasr City pukul 23.00 malam. Dan atas hari ini hanya tuhan yang tahu.
Cairo, 13 Maret 2006
Mei 3, 2007 at 6:52 am
wah sudah pinter cerita ya sekarang hehehhehe
—–last—–
Aan Reply:
Makasih Mbak Yu, smua ini berkat inspirasi njenengan, Maha Guruku… hehehehe