(Obrolan Presiden Dungu Membahas Ekonomi Negara)

Judul ini mungkin terlalu panjang dan dikecil-kecilkan. Namun memang kenyataannya seperti itu ketika kemaren Ahad (11/06/07) kami berempat ramai-ramai ngafe di Hilaly Cafe dikawasan jalan Ahmad Zumar, Madrasa, 10th Dc., Nasr city, Cairo setelah sama-sama melakukan pertemuan dengan para kyai khos dari Jawa Tengah di hotel Griya Jateng. Ada Ihya’ Ulumuddin, Nadlif Sidqi, Tobrony Basya dan saya sendiri. Mengawali pembicaraan, kita membahas pesan-pesan para kyai tadi yang disampaikan kepada kami dan kepada warga NU Mesir umumnya namun pembicaraan malam ini melebar, begitulah ketika pembicaraan tidak dimoderasi pasti akan kemana-mana arahnya hingga menemukan titik pembicaraan panas seputar Negara Indonesia.

Dalam obrolan ini yang paling menarik adalah ketika menyoroti masalah perekonomian Indonesia dimana mungkin saya bisa sedikit menarik kesimpulan dari pendapat Nadlif bahwa Indonesia akan maju jika ekonomi Indonesia secara makro telah keluar dari ketergantungan dengan Negara asing meski itu sangat sulit sekali. Hal itu oleh Nadlif digambarkan ketika masa pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid yang oleh kwik Kian Gie diakui masa-masa kejayaan ekonomi Indonesia. Sedang menurut Ihya’ untuk menuju ekonomi yang mapan kita harus terlebih dahulu mengobati borok (baca: luka) Indonesia seperti becana alam, tragedy hingga masalah pemberantasan korupsi. Nah dari situ Indonesia akan dengan mudah keluar dari krisis ekonomi. Dia menggambarkan sebagaimana adanya luka dalam tubuh yang menjadikan terhambatnya dalam mengerjakan sesuatu (baca: mencari nafkah). Pembicaraan ini yang awalnya tegang sedikit bisa membawa suasana tawa ketika Tobrony mengajukan opsinya bahwa Indonesia harus meniru Tiongkok yang telah melakukan reformasi ekonomi dimana ketika ekonomi dikendalikan oleh orang-orang di perkotaan sehingga butuh pemerataan maka dikirimkannya pakar-pakar ekonomi dan orang-orang pintar yang ada dikota diterjunkan ke pelosok-pelosok desa dan sebaliknya. Meskipun pada awalnya akan terpuruk, namun beberapa tahun kedepan akan semakin maju. Atas argument ini, Ihya’ sepontan bilang, “Wah namanya daur, jadinya ya mbulet nanti.” Disusul suasana tawa sambil kembali menyedot sisa (semacam rokok tradisional) dan minum sahlab.

Sedang untuk komentar saya sendiri, saya tidak banyak berbicara disini, saya hanya pemerhati saja. Jadi kalau menurut Nadlif, dia lebih cocok dikategorikan sebagai presiden, Ihya’ sebagai ketua MPR nya, Tobrony sebagai mentri perekonomian, dan saya sebagai pengusaha yang hanya mendengarkan para eksekutif dalam merumuskan dan menentukan kebijakan namun kadang kurang diimbangi dengan kenyataan lapangan yang ada sehingga praktik-praktik penyimpangan masih sering dilakukan.

Bukan sebuah pembelaan karena saya tidak berkomentar, namun memang karena kondisi yang kurang mendukung sebab kurang istirahat sehingga saya lebih nyaman mainan laptop sambil bercyber-cyber ria karena kebetulan di café Hilaly ini ada bocoran wireless.Obrolan kami berakhir pukul 03.35 pagi. dua setengah jam kami café ini dan malam ini pula kami say good bye dengan presiden Nadlif yang tanggal 12 Juni ini akan pulang ke Indonesia. Dari kami bertiga malam itu hany abisa mengucapkan selamat jalan kawan, semoga selamat sampai tujuan.

Dari Wikipedia, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).

Leave a Reply