peringatan-maulid.jpgBeberapa hari yang lalu kawan-kawan mahasiswa Indonesia di Mesir disibukkan oleh kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Terlebih kawan-kawan NU yang dengan hati gembira menyambut peringatan kelahiran Nabinya tercinta. Nabi yang dipercaya telah mengentaskan umat manusia dari masa kegelapan dan menjadikan masa yang penuh dengan sebuah arti dari setiap kehidupan.

Selain PCINU Mesir, KSW Mesir, Sekolah Indonesia Cairo dan beberapa organisasi dan lembaga bahkan perorangan yang mengadakan peringatan ini. Tak terkecuali Fismaba, organisasi almamater saya di Mesir. Ada cerita menarik ketika acara Maulid Nabi hendak dimulai, dimana saat itu saya melempar sebuah pertanyaan ke sesama kawan saya dengan sebuah pertanyaan nyleneh. “Lho, katanya (peringatan Maulid Nabi) bid’ah?” dengan sedikit senyum sambil menikmati khusu’-nya acara kawan saya menjawab “Iya bid’ah. tapi pada dasarnya bid’ah ada dua kan, pertama dlolalah dan kedua hasanah. Yang dlolalah itu kalau nggak ada makanannya, nah kalau yag kayak gini, ini hasanah… jangan salah.” Jawab teman saya yang sebenarnya juga aktivis NU.

Menilik sejarah memang tidak ada peringatan ini dilaksanakan pada zaman baginda Nabi, sehingga dikatakan bid’ah atas ritual itu, namun kembali ke dasar hukum bahwa bid’ah tidak selalu diartikan dlolalah atau sesat, banyak sekali ritual-ritual agama yang tidak terjadi di zaman Nabi— namun hasanah— sehingga mendatangkan pahala besar. Salah satunya adalah memperingati Maulid Nabi dengan hal-hal yang positif dengan menunjukkan bukti kecintaan kita kepada Rasul dan Nabu kita Mumammad SAW.

Pengertian tersebut diatas  sebagai mana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Fatawa Kubro, yang saya kutip dari situs kebaggaan saya, pesantren virtual. yang menjelaskan:”Asal  melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah s.a.w. datang ke Madina, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada haru Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab:”Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah s.a.w. di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rauslullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih”.

Adapun tradisi yang terjadi di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir, hampir sama dengan budaya yang terjadi di Indonesia pada umumnya. Di Mesir, untuk memperingati kegiatan tersebut pastilah ada yang namanya ‘hadrah’ (rebana), lalu bacaan ‘al-Barjanzi’ atau Dziba’  dan tidak luput juga adalah ‘mauidloh hasanah’ tentang ma’na dan kandungan atas peringatan tersebut. 

Leave a Reply