Allah Swt. Menciptakan jagad alam raya termasuk isinya adalah untuk menyebah kepada-Nya. Baik itu yang berupa mahluk hidup maupun benda mati. Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan sesorang yang saya hormati ketika di airport menunggu kedatangan rombongan KH. Hasyim Muzadi. Orang tersebut bilang kalau kita meyakini kepada sesuatu ciptaan Allah yang mampu memberikan kelebihan dalam kebaikan bagi kita, maka itu boleh selagi tidak percaya buta dan tetap percaya sepenuhnya bahwa yang memberi kekuatan adalah Allah, sedang benda tersebut adalah sebagai wasilah atau perantaranya.

Penjelasan tersebut diatas meski cukup singkat namun sempat membuat saya bertanya-tanya, meski sejenak dan juga bukan sebuah pertanyaan yang perlu jawaban namun cukup menguras otak karena saya mencoba memberi pembenaran terhadap pendapat tadi. Sebuah angan-angan melintas seperti layaknya minum obat ketika sakit. Inilah yang menjadi patokan saya bahwa ketika kita yakin dan percaya bahwa melalui obat yang kita minum, Tuhan akan memberikan kesembuhan bagi kita. Begitu pula dengan yang lainnya semisal azimat baik berupa batu akik maupun sejenisnya yang mana jika kita yakini mampu menjadi media pendekat kepada tuhan artinya bisa menjadi rajin dalam beribadah (hablu munallah) dan ramah terhadap sesama (hablu minanas).

Kemudian, manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya juga di tuntut untuk berusaha atau ikhtiyar sebab dari situlah tuhan akan mengukur sejauh mana mahluknya berusaha untuk mencapai hasil yang di inginkannya.

Terahir, lagi-lagi masalah i’tikad juga perlu diperhatikan, sebab bila mempunyai keyakinan bahwa benda selain Allah memiliki kekuatan lebih dengan sendirinya, maka bisa berakibat syirik, Sebaliknya, hanya sekedar melakukan aturan Allah (sunnatullah) sebagai contoh sunnatullah yang terdapat pada azimat yang dapat memberikan keselamatan adalah karena di dalamnya terdapat tulisan yang diagungkan (al-Asma al-Mu’adhomah), maka pengguna tidak berani melakukan perbuatan maksiat. Kalau sudah begitu, dia bisa selamat. Selain azimat juga masih banyak benda-benda yang akan menjerumuskan pada kesyirikan bila dibarengi keyakinan yang salah. Untuk itu tetap berhati-hati dan tetap meluruskan niat. Dan juga jangan terburu –buru mengklaim orang lain syirik kalau tidak tahu dengan pasti, sebab kalau keliru akibatnya akan kembali kepada diri sendiri. Wallau a’lam

One Response to “Azimat; Antara Berkah dan Syirik”

  1. UuHiw Says:

    Di ibaratkan kita sedang berdiri tegak berdiri diatas ujung pedang yang sangat tajam, kalau kita salah sedikit melangkah kita akan musyrik, tapi kalau iman kita kuat pasti akan mantap. dari segi sudut pandang yang berbeda, keris atau yang lainya merupakan peninggalan nenek moyang kita yang wajib kita lestarikan keberadaanya, karena kita harus sepatutnya menghormati jasa-jasa perjuangan mereka. siapa tahu benda tersebut ikut andil didalam membela kemerdekaan Indonesia. sehingga kita dapat melakukan apa saja tanpa harus dijajah oleh orang lain, selagi itu baik. jadi intinya jangan memandang dari salah satu segi saja terhadap benda pusaka.


Leave a Reply